Kamis, 07 Maret 2013

kulit bayi kering dan gatal






Krim dengan formula Stimu-tex AS (TM) yang membantu mengurangi kekeringan & rasa gatal yang berhubungan dengan kulit kering & sensitif. Selain itu ezerra cream juga mengandung Saccharide Isomerate yang bekerja menyerupai faktor pelembap alami kulit, serta melembapkan kepada semua kondisi cuaca, sehingga mencegah kulit dari kekeringan 

  • INDIKASI

    Krim dengan formula Stimu-tex AS (TM) yang membantu mengurangi kekeringan & rasa gatal yang berhubungan dengan kulit kering & sensitif. Selain itu ezerra cream juga mengandung Saccharide Isomerate yang bekerja menyerupai faktor pelembap alami kulit, serta melembapkan kepada semua kondisi cuaca, sehingga mencegah kulit dari kekeringan
  • KEMASAN

    Tube isi 25 g
  • DOSIS

    Gunakan 3-4 kali sehari secara teratur untuk mendapatkan hasil yang optimal

Rabu, 06 Maret 2013

MULTIPLE MYELOMA

Tulisan ini terinpirasi seorang temen yang mencari sumber informasi jenis penyakit yang cukup langka ini.
Informasi Secara Umum tentang penyakit ini adalah sebagai berikut:
Multiple myeloma is one of several diseases that are collectively known as plasma cell dyscrasias. In general, the term myeloma refers to cancer of special types of white blood cells called plasma cells. Plasma cells are important components of the immune system that help the body fight infections caused by microorganisms such as bacteria, viruses, and fungi. Plasma cells are found primarily in the bone marrow and develop from white blood cells called B-lymphocytes. When microorganisms invade the body, B-lymphocytes respond by transforming into plasma cells which, in turn, produce proteins called antibodies that help to destroy the invading microorganisms and, thereby, eradicate the infection. There are five types (classes) of antibodies (immunoglobulins) produced by plasma cells: IgG, IgM, IgA, IgD, and IgE. Each plasma cell produces a specific class of antibodies.
Definis : Multiple myeloma adalah tipe dari kanker. Kanker adalah kelompok dari banyak penyakit-penyakit yang berhubungan. Myeloma adalah kanker yang mulai pada sel-sel plasma, tipe dari sel darah putih. Ia adalah tipe yang paling umum dari kanker sel plasma.
Sel-sel darah normal
Kebanyakan sel-sel darah berkembang dari sel-sel dalam sumsum tulang yang disebut sel-sel iduk (stem cells). Sumsum tulang adalah materi yang lunak di pusat dari kebanyakan tulang-tulang.
Stem cells menjadi dewasa kedalam tipe-tipe yang berbede dari sel-sel darah. Setiap tipe mempunyai pekejaan khusus:
  • Sel-sel darah putih membantu melawan infeksi. Ada beberapa tipe-tipe dari sel-sel darah putih.

  • Sel-sel darah merah mengangkut oksigen ke jaringan-jaringan di seluruh tubuh.

  • Platelet-platelet membantu membentuk gumpalan-gumpalan darah yang mengontrol perdarahan.
Sel-sel plasma adalah sel-sel darah putih yang membuat antibodi-antibodi. Antibodi-antibodi adalah bagian dari sistim imun. Mereka bekerja dengan bagian-bagian lain dari sisitm imun untuk membantu melindungi tubuh dari kuman-kuman dan unsur-unsur berbahaya lainnya. Setiap tipe dari sel plasma membuat antobodi yang berbeda.
Sel-sel Myeloma
Myeloma, seperti kanker-kanker lain, mulai pada sel-sel. Pada kanker, sel-sel baru terbentuk ketika tubuh tidak memerlukan mereka, dan sel-sel yang tua atau rusak tidak mati ketika mereka harus mati. Sel-sel ekstra ini dapat membentuk massa dari jaringan yang disebut pertumbuhan atau tumor.
Myeloma mulai ketika sel plasma menjadi abnormal. Sel yang abnormal membelah untuk membuat salinan-salinan dari dirinya sendiri. Sel-sel yang baru membelah berulang-ulang, membuat semakin banyak sel-sel abnormal. Sel-sel plasma abnormal ini disebut sel-sel myeloma.
Pada waktunya, sel-sel myeloma berkumpul dalam sumsum tulang. Mereka mungkin merusak bagian yang padat dari tulang. Ketika sel-sel myeloma berkumpul pada beberapa tulang-tulang anda, penyakitnya disebut “multiple myeloma“. Penyakit ini mungkin juga membahayakan jaringan-jaringan dan organ-organ lain, seperti ginjal-ginjal.
Sel-sel myeloma membuat antibodi-antibodi yang disebut protein-protein M dan protein-protein lain. Protein-protein ini dapat berkumpul dalam darah, urin, dan organ-organ.
Gejala-gejala umum dari multiple myeloma termasuk:
  • Nyeri tulang, biasanya pada punggung dan tulang-tulang rusuk

  • Tulang-tulang yang patah, biasanya pada spine (tulang belakang)

  • Merasa lemah dan sangat lelah

  • Merasa sangat haus

  • Infeksi-infeksi dan demam-demam yang seringkali

  • Kehilangan berat badan

  • Mual atau sembelit

  • Buang air kecil yang seringkali.
Paling sering, gejala-gejala tidak disebabkan oleh kanker. Persoalan-persoalan kesehatan lain mungkin juga menyebabkan gejala-gejala ini. Hanya seorang dokter dapat memastikannya. Siapa saja dengan gejala-gejala ini harus memberitahu dokter sehingga persoalan-persoalan dapat didiagnosa dan dirawat sedini mungkin.
beberapa gejala tersebut di atas mirip dengan ‘ the silent killer : ovarian cancer’ (itu menurut pendapat saya karena symptom atau gejala yang sangat umum. namun demikian pemerikasaan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
  • Tes-tes Darah: Lab melakukan beberapa tes-tes darah:
    • Multiple myeloma menyebabkan tingkat-tingkat yang tinggi dari protein-protein dalam darah. Lab memeriksa tingkat-tingkat dari banyak protein-protein yang berbeda, termasuk protein M dan immunoglobulin-immunoglobulin (antibodi-antibodi) lain, albumin, dan beta-2-microglobulin.

    • Myeloma mungkin juga menyebabkan anemia dan tingkat-tingkat yang rendah dari sel-sel darah putih dan platelet-platelet. Lab melakukan complete blood count untuk memeriksa jumlah sel-sel darah putih, sel-sel darah merah, dan platelet-platelet.

    • Lab juga memeriksa tingkat-tingkat yang tinggi dari calcium.

    • Untuk melihat berapa baik giinjal-ginjal bekerja, lab menguji creatinine.

  • Tes-tes Urin: Lab melihat kemungkinan protein Bence Jones, tipe dari protein M, dalam urin. Lab mengukur jumlah dari protein Bence Jones dalam urin yang dikumpulkan melalui periode 24 jam. Jika lab menemukan tingkat yang tinggi dari protein Bence Jones dalam sample urin anda, dokter-dokter akan memonitor ginjal-ginjal anda. Protein Bence Jones dapat menyumbat ginjal-ginjal dan merusak mereka.

  • X-rays: Anda mungkin mempunyai x-rays untuk melihat kemungkinan tulang-tulang yang patah atau menipis. X-ray dari seluruh tubuh anda dapat dilakukan untuk melihat berapa banyak tulang-tulang dapat dirusak oloeh myeloma.

  • Biopsi: Dokter anda mengeluarkan jaringan untuk melihat kemungkinan sel-sel kanker. Biopsi adalah satu-satunya cara yang pasti untuk mengetahui apakah sel-sel myeloma ada didalam sumsum tulang anda. Sebelum sample diambil, anestesi lokal digunakan untuk memati rasakan area. Ini membantu mengurangi nyeri. Dokter anda mengeluarkan beberapa sumsum tulang dari tulang pinggul anda atau tulang besar lainnya. Ahli patologi menggunaan mikroskop untuk memeriksa jaringan untuk sel-sel myeloma.
    • Aspirasi sumsum tulang: Dokter menggunakan jarum tebal yang berongga untuk mengeluarkan sample-sample dari sumsum tulang.

    • Biopsi sumsum tulang: Dokter menggunakan jarum yang sangat tebal yang berongga untuk mengeluarkan sepotong kecil tulang dan sumsum tulang.
  • Ada dua cara-cara dokter anda dapat memperoleh sumsum tulang. Beberapa orang-orang akan mempunyai kedua prosedur-prosedur selama kunjungan yang sama:
Jika biopsi menunjukan bahwa anda mempunyai multiple myeloma, dokter anda perlu mempelajari luas (stadium) dari penyakit untuk merencanakan perawatan yang terbaik. Pen-stadiuman mungkin melibatkan mempunyai lebih banyak tes-tes:
  • Tes-tes darah: Untuk penstadiuman, dokter mempertimbangkan hasil-hasil dari tes-tes darah, termasuk albumin dan beta-2-microglobulin.

  • CT scan: Mesin x-ray yang dihubungkan pada konmputer mengambil rentetan gambar-gambar yang mendetil dari tulang-tulang anda.

  • MRI: Magnet yang sangat kuat yang dihubungkan pada komputer digunakan untuk membuat gambar-gambar yang mendetil dari tulang-tulang anda.
ini sekedar share bagi perempuan perempuan yang rentan terhadap penyakit. ini sekedar info…..
Perawatan
Orang-orang dengan multiple myeloma mempunyai banyak opsi-opsi perawatan. Opsi-opsi adalah penungguan yang penuh pengamatan, terapi induksi, dan transplantasi sel induk (stem cell transplant). Adakalanya kombinasi dari metode-metode digunakan.
Terapi radiasi adakalanya digunakan untuk merawat penyakit tulang yang menyakitkan. Ia mungkin digunakan sendirian atau bersama dengan terapi-terapi lain.
Pilihan perawatan tergantung terutama pada berapa majunya penyakit dan apakah anda mempunyai gejala-gejala. Jika anda mempunyai multiple myeloma tanpa gejala-gejala (myeloma yang membara), anda mungkin tidak memerlukan perawatan kanker segera. Dokter memonitor kesehatan anda secara ketat (penungguan yang penuh pengamatan) sehingga perawatan dapat mulai ketika anda mulai mempunyai gejala-gejala.
Jika anda mempunyai gejala-gejala, anda kemungkinan akan mendapat terapi induksi. Adakalanya transplantasi sel induk adalah bagian dari rencana perawatan.
Ketika perawatan untuk myeloma diperlukan, ia seringkali dapat mengontrol penyakit dan gejala-gejalanya. Orang-orang mungkin menerima terapi untuk membantu mempertahankan kanker dalam remisi, namun myeloma jarang dapat disembuhkan. Karena perawatan standar mungkin tidak mengontrol myeloma, anda mungkin ingin bicara pada dokter anda tentang ambil bagian pada percobaan klinik. Percobaan-percobaan klinik adalah studi-studi penelitian dari metode-metode perawatan yang baru.
Dokter anda dapat menggambarkan pilihan-pilihan perawatan anda, hasil-hasil yang diharapkan, dan kemungkinan efek-efek sampingan. Anda dan dokter banda dapat belerja sama untuk mengembangkan rencana perawatan yang memenuhi keperluan-keperluan anda.
Dokter anda mungkin merujuk anda pada spesialis, atau anda mungkin bertanya untuk referensi. Spesialis-spesialis yang merawat multiple myeloma termasuk hematologists (ahli darah) dan medical oncologists (ahli-ahli kanker medis). Team dokter anda mungkin juga termasuk perawat onkologi dan ahli nutrisi yang terdaftar.
Sebelum perawatan mulai, minta team dokter anda untuk menjelaskan efek-efek sampingan yang mungkin dan bagaiman perawatan mungkin merubah aktivitas-aktivitas normal anda. Karena perawatan-perawatan kanker seringkali merusak sel-sel dan jaringan-jaringan yang sehat, efek-efek sampingan adalah umum. Efek-efek sampingan mungkin tidak sama untuk setiap orang, dan mereka mungkin berubah dari satu sesi perawatan ke yang berikutnya.
Anda mungkin ingin tanya dokter anda pertanyaan-pertanyaan ini sebelum anda mulai perawatan:
  • Stadium apa dari myeloma yang saya punya ?

  • Apakah penyakitnya mempengaruhi ginjal-ginjal saya ?

  • Bagaimana saya mendapatkan salinan laporan dari ahli patologi ?

  • Apa pilihan-pilihan perawatan saya ? Mana yang anda rekomendasikan untuk saya ? Mengapa ?

  • Akankah saya mempunyai lebih dari satu jenis perawatan ? Bagaimana perawatan saya akan berubah melalui waktu ?

  • Manfaat-manfaat apa yang diharapkan dari setiap jenis perawatan ?

  • Risiko-risiko dan kemungkinan efek-efek sampingan apa dari setiap perawatan ? Apa yang dapat kita perbuat untuk mengontrol efek-efek sampingan ?

  • Apa yang dapat saya perbuat untuk menyiapkan diri untuk perawatan ?

  • Apakah saya perlu rawat inap di rumah sakit ? Jika ya, untuk berapa lama ?

  • Kemungkinan berapa biaya perawatannya ? Akankah asuransi saya menutupi biaya ?

  • Bagaimana perawatan akan mempengaruhi aktivitas-aktivitas normal saya ?

  • Apakah percobaan klinik tepat untuk saya ? Dapatkan anda membantu saya mencarinya ?

  • Berapa sering saya harus mempunyai checkup-checkup ?
Penungguan yang penuh pengamatan
Orang-orang dengan myeloma yang membara atau myeloma stadium I mungkin mampu untuk menangguhkan mempunyai perawatan kanker. Dengan menunda perawatan, anda dapat menghindari efek-efek sampingan dari perawatan hingga anda mempunyai gejala-gejala.
Jika anda dan dokter anda setuju bahwa penungguan yang penuh pengamatan adalah idea yang baik, anda akan mempunyai checkup-checkup regular (seperti setiap 3 bulan). Anda akan menerima perawatan jika gejala-gejala terjadi.
Meskipun penungguan yang penuh pengamatan menghindari atau menunda efek-efek sampingan dari perawatan kanker, pilihan ini mempunyai risiko-risiko. Pada beberapa kasus-kasus, ia mungkin mengurangi kesempatan mengontrol myeloma sebelum ia memburuk.
Anda mungkin memutuskan untuk tidak menggunakan penungguan yang penuh pengamatan jika anda tidak ingin hidup dengan myeloma yang tidak dirawat. Jika anda memilih penungguan yang penuh pengamatan namun tumbuh kekhawatiran kemudian, anda harus mendiskusikan perasaan-perasaan anda dengan dokter anda. Pendekatan yang lain adalah opsi pada kebanyakan kasus-kasus.
Anda mungkin ingin tanya dokter anda pertanyaan-pertanyaan ini sebelum memilih penungguan yang penuh pengamatan:
  • Jika saya memilih penungguan yang penuh pengamatan, dapatkah saya merubah pikiran saya kemudian ?

  • Akankah kanker lebih sulit dirawat kemudian ?

  • Berapa sering akan saya mempunyai checkup-checkup ?

  • Antara checkup-checkup, pesoalan-persoalan apa yang saya harus memberitahu anda ?

Sklerosis Multipel (Multiple Sclerosis)

Sklerosis Multipel (Multiple Sclerosis)

DEFINISI
Sklerosis Multipel adalah suatu kelainan dimana saraf-saraf pada mata, otak dan tulang belakang kehilangan selubung sarafnya (mielin). Istilah sklerosis multipel berasal dari banyaknya daerah jaringan parut (sklerosis) yang mewakili berbagai bercak demielinasi dalam sistem saraf. Pertanda neurologis yang mungkin dan gejala dari sklerosis multipel sangat beragam sehingga penyakit ini tidak terdiagnosis ketika gejala pertamanya muncul.

Lama-lama penyakit ini akan semakin memburuk secara perlahan. Penderita biasanya mengalami periode bebas gejala (remisi) yang diselingi dengan serangan penyakit (eksaserbasi).


PENYAKIT DEMIELINASI PRIMER LAINNYA
Ensefalomielitis akut diseminata (ensefalomielitis pasca infeksi) merupakan suatu jenis peradangan yang jarang terjadi, yang menyebabkan demielinasi yang biasanya terjadi setelah suatu infeksi virus atau vaksinasi. Diduga merupakan reaksi imun yang salah, yang dipicu oleh virus. Sindroma Guillain-Barre merupakan penyakit pada saraf tepi yang menyerupai kelainan ini.

Adrenoleukodistrofi dan Adrenomieloneuropati merupakan kelainan metabolik keturunan yang jarang terjadi. Adrenoleukodistrofi terjadi pada anak laki-laki (biasanya usia 7 tahun), tetapi penyakit yang perkembangannya lebih lambat bisa dimulai pada usia 20an. Adrenomieloneuropati menyerang remaja putra. Demielinasi yang luas disertai dengan fungsi kelenjar adrenal yang abnormal. Pada akhirnya terjadi kemunduran mental dan anak menjadi kaku dan buta.

Belum ada pengobatan untuk penyakit ini. Makanan tambahan berupa gliserol trioleat dan gliserol trierukat (minyak Lorenzo) akan memperbaiki komposisi asam lemak dalam darah, tetapi belum terbukti memperbaiki perjalanan penyakit ini. Pencangkokan sumsum tulang merupakan pengobatan yang masih bersifat uji coba.

Atrofi optik herediter Leber menyebabkan demielinasi yang berakhir dengan kebutaan parsial. Penyakit ini lebih sering terjadi pada pria dan biasanya gejala muncul pertama kali pada akhir masa remaja atau awal 20an. Penyakit ini didapat dari ibunya dan tampaknya ditularkan melalui mitokondria (sumber energi untuk sel).

Mielopati yang berhubungan dengan HTLV merupakan infeksi oleh virus limfotrofik sel-T manusia, yang menyebabkan demielinasi pada medula spinalis. Penyakit ini sering ditemukan di negara tropis tertentu dan di beberapa bagian Jepang. Setelah beberapa tahun, penyakit ini akan semakin memburuk, sehingga terjadi kekakuan dan kelemahan tungkai serta gangguan fungsi saluran pencernaan dan kandung kemih.


PENYEBAB
Penyebabnya tidak diketahui, tetapi diduga suatu virus atau antigen asing memicu reaksi autoimun, yang biasanya terjadi pada awal kehidupan penderita. Lalu tubuh akan menghasilkan antibodi untuk melawan mielinnya sendiri, antibodi ini menyebabkan peradangan dan kerusakan pada selubung saraf.

Faktor keturunan tampaknya berperan dalam terjadinya sklerosis multipel. Sekitar 5% penderita memiliki saudara laki-laki atau saudara perempuan yang juga menderita penyakit ini dan sekitar 15% penderita memiliki keluarga dekat yang menderita penyakit ini. Faktor lingkungan juga berperan dalam terjadinya penyakit ini. Sklerosis multipel terjadi pada 1 dari setiap 2000 orang yang pada 10 tahun pertama kehidupannya tinggal di daerah beriklim sedang, tetapi hanya 1 dari setiap 10.000 orang yang lahir di daerah beriklim tropis. Sklerosis multipel hampir tidak pernah menyerang orang-orang yang tinggal di dekat katulistiwa. Iklim dimana seseorang tinggal pada 10 tahun pertama kehidupannya tampaknya lebih penting daripada iklim dimana seseorang tinggal setelah 10 tahun pertama kehidupannya.


GEJALA
Gejala biasanya muncul pada usia 20-40 tahun, lebih sering terjadi pada wanita. Demielinasi bisa terjadi pada bagian otak atau tulang belakang mana saja, dan gejalanya tergantung kepada daerah yang terkena. Demielinasi pada jalur saraf yang membawa sinyal ke otot menyebabkan kelainan gerak (gejala motorik), sedangkan jika terjadi pada jalur saraf yang menuju ke otak menyebabkan kelainan sensasi (gejala sensorik).

Gejala awal yang sering terjadi adalah kesemutan, mati rasa atau perasaan aneh pada lengan, tungkai, batang tubuh atau wajah. Ketangkasan dan kekuatan tungkai atau tangan bisa hilang. Beberapa penderita hanya memiliki gejala pada mata berupa penglihatan ganda, kebutaan parsial dan nyeri pada satu mata, penglihatan kabur atau suram atau hilangnya penglihatan pusat (neuritis optikus). Gejala awal juga bisa berupa perubahan emosi dan intelektual yang ringan. Petunjuk yang samar-samar dari adanya demielinasi pada otak ini kadang dimulai jauh sebelum penyakitnya diketahui.

DIAGNOSA
Diduga suatu sklerosis multipel pada seorang usia muda yang secara tiba-tiba pandangannya menjadi kabur, mengalami penglihatan ganda atau kelainan motorik dan sensorik di berbagai bagian tubuh yang berbeda. Diagnosis diperkuat dengan pola kekambuhan dan penyembuhan yang berulang. Dilakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap sistem saraf sebagai bagian dari pemeriksaan fisik.

Pemeriksaan laboratorium bisa membedakan sklerosis multipel dengan penyakit lainnya yang mirip. Pada pungsi lumbal ditemukan jumlah sel darah putih yang lebih sedikit dan proteinnya sedikit lebih banyak daripada normal. Konsentrasi antibodi bisa tinggi dan jenis antibodi khusus dan bahan lainnya ditemukan pada 90% penderita.

MRI bisa menunjukkan daerh otak yang telah kehilangan mielinnya. Pemeriksaan ini jug bisa membedakan daerah yang aktif dari daerah yang telah mengalami demielinasi beberapa waktu yang lalu.

Jika saraf dirangsang, respon listrik di dalam otak bisa direkam melalui evoked potential. Dalam keadaan normal, otak memberikan respon terhadap cahaya atau suara dengan pola aktivitas listrik yang khas. Pada penderita sklerosis multipel, responnya lebih lambat karena terdapat gangguan dalam penghantaran sinyal di sepanjang saraf yang selubungnya telah hilang.

Beberapa penyakit yang menyebabkan gejala yang menyerupai sklerosis multipel:
- Infeksi otak karena bakteri atau virus (penyakit Lyme, AIDS, sifilis)
- Kelainan struktur pada dasar tengkorak dan tulang belakang (artritis berat pada leher, ruptur diskus spinalis)
- Tumor atau kista di otak dan medula spinalis (siringomielia)
- Kemunduran spinoserebelar dan ataksia herediter (penyakit dimana aksi otot tidak teratur atau otot tidak terkoordinasi)
- Stroke ringan (terutama pada penderita diabetes atau hipertensi yang peka terhadap penyakit ini)
- Sklerosis amiotrofik lateralis (penyakit Lou Gehrig)
- Peradangan pembuluh darah di dalam otak atau medula spinalis (lupus, arteritis).


PENGOBATAN
Suntikan beta-interferon bisa mengurangi frekuensi kekambuhan. Pengobatan lainnya yang menjanjikan dan masih dalam penelitian adalah interferon lainnya, mielin oral dan glatiramer; yang membantu mencegah tubuh menyerang mielinnya sendiri.

Keuntungan dari plasmaferesis dan gamma globulin intravena masih belum pasti dan pengobatan ini tidak praktis untuk terapi jangka panjang. Pengobatan utama untuk mengurangi gejala akut adalah kortikosteroid (misalnya prednison per-oral atau metilprednisolon intravena).

Kortikosteroid bisa memperpendek masa serangan, tetapi tidak menghentikan perkembangan penyakit untuk jangka panjang. Efek samping dari penggunaan kortikosteroid jangka panjang adalah mudah terkena infeksi, diabetes, penambahan berat badan, kelelahan, osteoporosis dan ulkus.

Penderita seringkali dapat mempertahankan gaya hidupnya yang aktif, meskipun mudah mengalami kelelahan dan tidak mampu mengikuti jadwal yang sudah tersusun. Latihan rutin (misalnya sepeda statis, berjalan, berenang atau peregangan) bisa mengurangi kekakuan otot dan membantu menjaga kesehatan jantung, otot dan psikis. Terapi fisik bisa membantu mempertahankan keseimbahan, kemampuan berjalan dan daya jangkau otot serta mengurangi kekakuan dan kelemahan otot.

Persarafan yang mengendalikan pembuangan air kemih atau saluran pencernaan juga bisa terkena dan menyebabkan inkontinensia atau penimbunan air kemih atau tinja. Penderita diajarkan untuk memasang selang kateter (untuk mengosongkan kandung kemih) atau menggunakan pelunak tinja maupun pencahar.


PROGNOSIS

Sklerosis multipel memiliki perjalanan penyakit yang bervariasi dan tidak bisa diramalkan. Pada banyak penderita, penyakit ini dimulai dengan gejala tertentu, yang selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun kemudian tidak menunjukkan gejala lebih lanjut. Pada penderita lainnya, gejala semakin memburuk dan lebih meluas dalam beberapa minggu atau beberapa bulan. Cuaca hangat, mandi air panas atau demam bisa memperberat gejala.

Kekambuhan bisa terjadi secara spontan atau dipicu oleh infeksi (misalnya influenza). Jika kekambuhan sering terjadi maka kelainan semakin memburuk dan bisa bersifat menetap.

Minggu, 03 Maret 2013

MIASTENIA GRAVIS

MIASTENIA GRAVIS

Pendahuluan
Penyakit ini memiliki ciri-ciri imunologik lebih lengkap dibandingkan penyakit otot lainnya. Gejala tunggal utama ialah kelemahan otot setelah mengeluarkan tenaga yang sembuh kembali setelah beristirahat. Walaupun kelumpuhan khas itu dapat timbul pada setiap otot, namun kebanyakan dari kasus-kasus memperlihatkan kelemahan otot-otot okuler, terutama ptosis. Saraf otak kranial motorik yang sering terkena juga ialah otot wajah dan otot-0tot penelan.

Pembuktian etiologi auto-imunologiknya diberikan oleh kenyataan bahwa glandula timus memiliki hubungan yang erat. Pada 80% daripada penderita miastenia gravis didapati glandula timus yang abnormal. Kira-kira 10% dari mereka memperlihatkan struktur timoma dan pada penderita-penderita lainnya terdapat infiltrat limfositer pada pusat germinativa glandula timus tanpa perubahan di jaringan limfositer lainnya. Kelainan di glandula timus seperti itu sering dijumpai juga pada penderita dengan Lupus eritematous sistemik, tirotoksikosis, miksedema, penyakit Addison, dan anemia hemolitik eksperimental tikus. Gambaran histopatologik otot yang terkena terdiri dari reaksi CMI (Cell Mediated Immunity). "Antibody" dan faktor reumatoid kedua-duanya ditemukan pada mayoritas para penderita miastenia gravis. Kombinasi dengan artritis reumatoid, lupus, anemia pernisiosa, sarkoidosis, Hodgkin dan tiroiditis sering dijumpai pada beberapa penderita miastenia gravis.
Tanda dan Gejala
Gejala awal pada MG dapat berupa kesulitan berbicara (dysarthria), kesulitan menelan (dsyphagia), kelopak mata turun (ptosis), dan penglihatan ganda (diplopia). Pasien sering memiliki suara parau dan otot leher yang lemah yang selalu membuat kepala cenderung jatuh jatuh kedepan atau ke belakang. Gejala ini terjadi pada 90% kasus MG, dan biasanya intermitten, dan dapat hilang untuk beberapa minggu kemudian terjadi kembali.
Kelemahan menyeluruh biasanya bermula pada batang tubuh, lengan, tungkai dalam satu tahun pertama onset. Otot lengan biasanya yang paling parah. Kelemahan otot cenderung memburuk setiap harinya, terutama setelah aktivitas.

Gambar 1. Ptosis pada pasien Myasthenia Gravis
Komplikasi
Krisis miasthenic merupakan suatu kasus kegawatdaruratan yang terjadi bila otot yang mengendalikan pernapasan menjadi sangat lemah. Kondisi ini dapat menyebabkan gagal pernapasan akut dan pasien seringkali membutuhkan respirator untuk membantu pernapasan selama krisis berlangsung. Komplikasi lain yang dapat timbul termasuk tersedak, aspirasi makanan, dan pneumonia.
Faktor-faktor yang dapat memicu komplikasi pada pasien termasuk riwayat penyakit sebelumnya (misal, infeksi virus pada pernapasan), pasca operasi, pemakaian kortikosteroid yang ditappering secara cepat, aktivitas berlebih (terutama pada cuaca yang panas), kehamilan, dan stress emosional.
Diagnosis
Diagnosis myasthenia gravis ditegakkan dengan cara:
  • Riwayat medis (Anamnesis)
  • Tes Darah
  • Pemeriksaan fisis dan neurologis
  • Pemeriksaan Radiologi (e.g., x-ray, CT scan)
  • Tensilon Test
  • Electromyograph
Tes darah dikerjakan untuk menebtukan kadar antibody tertentu didalam serum(mis, AChR-binding antibodies, AChR-modulating antibodies, antistriational antibodies). Tingginya kadar dari antibody dibawah ini dapat mengindikasikan adanya MG.
Pemeriksaan Neurologis melibatkan pemeriksaan otot dan reflex. MG dapat menyebabkan pergerakan mata abnormal, ketidakmampuanuntuk menggerakkan mata secara normal, dan kelopak mata turun. Untuk memeriksa kekuatan otot lengan dan tungkai, pasien diminta untuk mempertahankan posisint melawan resistansi selama beberapa periode. Kelemahan yang terjadi pada pemeriksaan ini disebut fatigabilitas.
Foto thorax X-Ray dan CT-Scan dapat dilakukan untuk mendeteksi adanya pembesaran thymoma, yang umum terjadi pada MG
Pemeriksaan Tensilon sering digunakan untuk mendiagnosis MG. Enzim acetylcholinesterase memecah acetylcholine setelah otot distimulasi, mencegah terjadinya perpanjangan respon otot terhadap suatu rangsangan saraf tunggal. Edrophonium Chloride merupakan obat yang memblokir aksi dari enzim acetylcholinesterase.
Pada MG, terdapat sedikit situs reseptor acetylcholine pada otot dan acetylcholine dipecah sebelum zat ini menstimulasi otot secara sempurna, mengakibatkan terjadinya kelemahan otot. Dengan mencegah kerja dari acetylcholinesterase, Tensilon memperpanjang stimulasi otot dan mengembalikan kekuatan secara sementara.
Pada pemeriksaan ini, tensilon diberikan secara intravena dan respon otot dievaluasi. Pada kasus MG, kelemahan otot akan membaik dalam 1 menit. Pemeriksaan tensilon paling efektif jika terdapat kelemahan yang mudah terlihat, dan kurang berguna pada keluhan yang samar atau berfluktuasi. Efek camping dari tes ini adalah ritme jantung abnormal sementara.
Electromyography (EMG) menggunakan elektroda untuk merangsang otot dan mengevaluasi fungsi otot. Kontraksi otot yang semakin melemah menandakan adanya MG..
Differential Diagnosis
Gangguan yang mungkin menyebabkan gejala yang sama dengan MG termasuk botulisme dan Lambert Eaton Síndrome. Botulism disebabkan oleh infeksi Clostridium botulinum yang dapat memblokir AChR dan menyebakan kelemahan otot.

Lambert Eaton syndrome terkait dengan tipe kanker tertentu. Kondisi ini memperlihatkan hasil EMG yang berbeda dengan yang disebabkan oleh MG.
Obat dapat memblokir neuromuscular junction dan menyebabkan gejala yang mirip dengan MG. Obat ini termasuk dibawah ini
  • Antibiotics (e.g., ciprofloxacin, erythromycin, ampicillin)
  • Antispasmodic drugs (e.g., trihexyphenidyl;)
  • Beta-adrenergic receptor blocking agents (e.g., propranolol, timolol)
  • Cardiac drugs (e.g., procainamide, verapamil, quinidine)
  • Lithium (digunakan untuk menangani mania)
  • Penicillamine
Penatalaksanaan
Myasthenia gravis merupakan gangguan neuromuskuler yang paling dapat diatasi. Pemilihan metode terapi tergantung beberapa faktor seperti umur, kesehatan secara umum, keparahan penyakit, dan derajat perkembangan penyakit.
Pengobatan
Anticholinesterase seperti neostigmine (Prostigmin®) dan pyridostigmine (Mestinon®) biasanya diresepkan. Obat ini mencegah destruksi ACh dan meningkatkan akumulasi Ach pada neuromuscular junctions, memperbaiki kemampuan kontraksi otot.
Efek samping itermasuk liur berlebihan, kontraksi otot involunter (fasciculation), nyeri abdomen, mual, dan diare. Obat yang disebut kaolin dapat digunakan sebagai anticholinesterase untuk mengurangi efek samping pada gastrointestinal.
Corticosteroids (e.g., prednisone) menekan antibody yang memblokir AChR pada neuromuscular junction dan dapat digunakan bersamaan dengan anticholinesterase. Kortikosteroid memperbaiki keadaan dalam beberapa minggu dan jika pemulihan sudah stabil, dosis sebaiknya dikurangi secara perlahan (tapering off)
Dosis rendah dapat digunakan tidak terbatas untuk mengatasi MG, namun, efek samping seperti, ulkus gaster, osteoporosis, peningkatan berat badan, gula darah meningkat, dan peningkatan resiko infeksi mungkin muncul pada pemakaian jangka panjang
Immunosuppressants seperti azathioprine (Imuran®) dan cyclophosphamide (Neosar®) dapat digunakan untuk menangani MG umum jika pengobatan lain gagal mengurangi gejala. Efek Samping dapat berat dan termasuk penurunan sel darah putih, disfungsi liver, mual, muntah, dan rambut gugur.
Immunosuppressants tidak digunakan untuk menangani MG congenital karena kondisi ini bukan terjadi disebabkan oleh disfungsi sistem imun.
Penatalaksanaan Lainnya
Plasmapheresis, atau pertukaran plasma, digunakan untuk memodifikasi malfungsi pada sistem imun. Ini dapat digunakan pada gejala yang memburuk (eksaserbasi) atau persiapan operasi thymectomy.
Biasanya, 2 hinga 3 liter plasma dibuang dan diganti pada setiap penangananm dimana memerlukan beberapa jam. Kebanyak pasien menjalani beberapa sesi selama metode plasmapheresis berjalan. Plasmapheresis memperbaiki gejala MG dalam beberapa hari dan perbaikan bertahan hingga 6-8 minggu..
Resiko termasuk tekanan darah rendah, pusing, penglihatan kabur, dan pembentukan bekuan darah (thrombosis).
Thymectomy merupakan operasi pembuangan kelenjar thymus. Biasanya dilakukan pada pasien dengan tumor pada thymus (thymoma) dan pasien yang lebih muda dari umur 55 tahun dengan MG menyeluruh. Manfaat thymectomy berkembang secara perlahan dan kebanyakan perbaikan terjadi selama bertahun-tahun setelah prosedur ini dilakukan.

Askep Meningitis TB

Askep Meningitis TB
Askep meningitis TB lanjutan dari Konsep Medis Meningitis Tb. Klik disini untuk membaca Konsep Medis meningitis TB
1.  Pengkajian
 Data yang akan didapatkan pada pengkajian meningitis TB Adalah:
  • Sakit kepala dan demam adalah gejala awal yang sering.
  • Perubahan pada tingkat kesadaran dapat terjadi letargi, tidak responsif dan koma
  • Iritasi meningen mengakibatkan sejumlah tanda sebagai berikut:
  • Rigiditasi nukal (kaku leher) upaya untuk fleksi kepala mengalami kesukaran karena adanya spasme otot leher.
  • Tanda kernik positif; ketika pasien di baringkan dengan paha dalam keadaan fleksi ke arah abdomen, kaki tidak dapat diekstensikan sempurna.
  • Tanda brudziki; bila leher pasien di fleksikan maka di hasilkan fleksi lutut dan pinggul. Bila dilakukan fleksi pasif pada ekstermitas bawah pada salah satu sisi ekstermitas yang berlawanan.
  • Mengalami foto fobia atau sensitif  yang berlebihan pada cahaya.
  • Kejang akibat area fokal kortikal yang peka dan peningkatan TIK
  • Adanya ruam merupakan ciri menyolok pada meningitis meningokokal.
  • Infeksi fulminating dengan tanda-tanda septikemia : demam tinggi tiba-tiba muncul lesi purpura yang menyebar, syok dan tanda koagulopati intravaskuler diseminata.
 2.  Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia (status kesehatan atau resiko perubahan pola) dari individu atau kelompok dimana perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan atau mengurangi, menghilangkan atau mencegah perubahan (Nursalam, 2001),
Menurut Doenges 2000, Diagnosa keperawatan yang muncul pada klien dengan meningitis adalah:
  1. Resiko tinggi penyebaran infeksi berhubungan dengan proses invasi kuman patogen
  2. Resiko tinggi terhadap perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan oedema serebral
  3. Resiko tinggi terhadap trauma berhubungan dengan penurunan kesadaran
  4. Nyeri berhubungan dengan adanya proses infeksi pada susunan saraf pusat
  5. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler
  6. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan penekanan pada pusat pengaturan  pernapasan
  7. Peningkatan suhu tubuh: hipertermi berhubungan dengan inflamasi pada meningen
  8. Resiko terjadi gangguan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama
  9. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kelemahan refleks menelan atau adanya disfagia atau adanya rasa mual, muntah, anoreksia
  10. Kurang perawatan diri berhubungan dengan perubahan susunan saraf pusat, kelemahan fisik
  11. Gangguan rasa aman: cemas klien dan keluarga berhubungan ancaman kematian
3.  Perencanaan
Perencanaan adalah proses penentuan tujuan merumuskan intervensi dan rasional secara sistematis dan spesifik disesuaikan dengan kondisi, situasi dan lingkungan klien (Potter & Perry, 2005).
Berdasarkan diagnosa keperawatan yang mungkin terjadi pada klien maka perencanaan yang dilakukan untuk masing-masing diagnosa adalah sebagai berikut:

a.    Resiko tinggi penyebaran infeksi berhubungan dengan proses invasi kuman patogen
1)    Tujuan
a)    Tujuan jangka panjang
Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 4 hari penyebaran infeksi tidak terjadi
b)    Tujuan jangka pendek
Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 1 hari tanda-tanda penyebaran infeksi tidak terjadi dengan kriteria
-  Suhu tubuh normal 36-37°C
-  Klien ditempatkan di ruang isolasi
2)    Intervensi :
a)    Berkan tindakan isolasi sebagai tindakan pencegahan.
Rasional :
Pada fase awal meningitis meningokokus atau infeksi ensepalitis lainnya, isolasi mungkin diperlukan sampai organismenya diketahui/ dosis antibiotik yang cocok telah diberikan untuk menurunkan resiko penyebaran pada orang lain.
b)    Pertahankan teknik aseptik dan teknik cuci tangan yang tepat baik klien atau pengunjung maupun staf. Pantau dan batasi pengunjung/staf sesuai kebutuhan.
Rasional :
Menurunkan resiko klien terkena infeksi sekunder. Mengontrol penyebaran sumber infeksi, mencegah pemajanan pada individu terinfeksi (misalnya individu yang mengalami infeksi saluran pernapasan atas).
c)    Pantau suhu secara teratur. Catat munculnya tanda-tanda klinis dari proses infeksi
Rasional :
Terapi obat biasanya akan diberikan terus selama kurang lebih 5 hari setelah suhu turun (kembali normal) dan tanda-tanda klinisnya jelas. Timbul tanda klinis terus menerus merupakan indikasi perkembangan dari meningokosemia akut yang dapat bertahan sampai berminggu-minggu/berbulan-bulan atau menjadi penyebaran pathogen secara hematogen/sepsis.
d)    Teliti adanya keluhan dari dada, berkembangnya nadi yang tidak teratur/distrimia atau demam yang terus menerus.
Rasional :
Infeksi sekunder seperti miokarditis dapat berkembang dan memerlukan intervensi lanjut.
e)    Auskultasi suara napas. Pantau kecepatan pernapasan dan usaha pernapasan.
Rasional :
Adanya rochi/mengi, takhipnea dan peningkatan kerja pernapasan mungkin mencerminkan adanya akumulasi sekret dengan resiko terjadinya infeksi pernapasan.
f)    Ubah posisi klien dengan teratur dan anjurkan untuk melakukan napas dalam.
Rasional :
Mobilisasi sekret dan meningkatkan kelancaran sekret yang akan menurunkan resiko terjadinya komplikasi terhadap pernapsan.
g)    Catat karakteristik urine seperti warna, kejernihan dan bau.
Rasional :
Urine statis, dehidrasi dan kelemahan umum meningkatkan resiko terhadap infeksi kandung kemih/ginjal/awitan.
h)    Kolaborasi: berikan terapi antibiotik, IV sesuai indikasi: penicillin G, ampisilin, kloramfenikol, gentamisin, amfoterisin B.
Rasional:
Obat yang dipilih tergantung pada tipe infeksi dan sensitifitas individu. Catatan: obat intratekal mungkin di indikasikan untuk basilus gram negatif, jamur, amuba.

b.    Resiko tinggi terhadap perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan oedema serebral
1)    Tujuan
a)    Tujuan jangka panjang
Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 4 hari gangguan perfusi jaringan serebral tidak terjadi
b)    Tujuan jangka pendek
Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 1 hari tanda-tanda gangguan perfusi jaringan serebral tidak terjadi dengan kriteria:
-    Tingkat kesadaran membaik
-    Tanda-tanda vital stabil
-    Tidak adanya nyeri kepala
-    Tidak adanya tanda peningkatan TIK
2)   Intervensi :
a) Tentukan faktor-faktor yang berhubungan dengan keadaan tertentu atau yang menyebabkan koma/penurunan perfusi jaringan otak dan potensial peningkatan TIK
Rasional:
Menentukan pilihan intervensi. Penurunan tanda/gejala neurologis atau kegagalan dalam pemulihannya setelah serangan awal menunjukan klien itu perlu dipindahkan ke perawatan intensif untuk mementau tekanan TIK atau pembedahan.
b)    Pantau status neurologis secara teratur dan bandingkan dengan nilai standar (misalnya: GCS)
Rasional:
Mengkaji adanya kecenderungan pada tingkat kesadaran dan potensial peningkatan TIK dan bermanfaat dalam menentukan, lokasi, perluasan dan perkembangan kerusakan SSP.
c)    Pantau tanda-tanda vital meliputi TD, Nadi, Respirasi
Rasional:
Peningkatan tekanan darah sistemik yang diikuti oleh penurunan tekanan darah diastolik merupakan tanda adanya peningkatan TIK nafas yang tidak teratur dapat menunjukan lokasi gangguan serebral dan tanda adanya peningkatan serebral.
d)    Bantu klien untuk menghindari manuver valsava, seperti batuk, mengejan.
Rasional:
Aktivitas ini akan meningkatkan tekanan intra thoraks yang akan meningkatkan TIK
e)    Perhatikan adanya gelisah yang meningkat, peningkatan keluhan dan tingkah laku yang tidak sesuai
Rasional:
Petunjuk non verbal ini menunjukan adanya peningkatan TIK atau adanya nyeri kepala
f)    Tinggikan kepala klien 15-45 derajat sesuai indikasi yang dapat ditoleransi.
Rasional:
Meningkatkan aliran balik vena dari kepala sehingga akan mengurangi kongesti dan oedema atau resiko peningkatan TIK.
g)    Kolaborasi untuk pemberian obat sesuai indikasi seperti dexametason
Rasional:
Menurunkan inflamasi yang selanjutnya menurunkan oedema jaringan.

c.    Resiko tinggi terhadap trauma berhubungan dengan penurunan kesadaran
1)    Tujuan
a)    Tujuan jangka panjang
Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 4 hari trauma/injuri tidak terjadi
b)    Tujuan jangka pendek
Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 1 hari tanda-tanda  trauma tidak terjadi dengan kriteria:
-    Tidak mengalami kejang
-    Kejang dapat diatasi
2)    Intervensi
a)    Monitor adanya kejang/kedutan pada tangan, kaki dan mulut atau otot wajah yang lain.
Rasional:
Mencerminkan adanya iritasi SSP secara umum yang memerlukan evaluasi segera dan intervensi yang mungkin untuk mencegah komplikasi.
b)    Berikan keamanan pada klien dengan memberi bantalan pada penghalang tempat tidur, pertahankan penghalang tempat tidur tetap terpasang dan pasang jalan nafas buatan plastik atau gulungan lunak dan alat penghisap.
Rasional:
Melindungi klien jika terjadi kejang. Catatan: Memasukan jalan nafas buatan/ gulungan lunak hanya jika rahangnya relaksasi, jangan dipaksa, memasukan ketika giginya mengatup karena dapat merusak jaringan lunak.
c)    Kolaborasi dengan medik untuk pemberian obat sesuai indikasi, seperti Fenitoin (dilantin), diazepam (valium), fenobarbital (luminal)
Rasional:
Merupakan indikasi untuk penanganan dan pencegahan kejang. Catatan: Fenobarbital dapat menyebabkan depresi pernafasan dan sedatif serta menutupi tanda/gejala dari peningkatan TIK.

d.    Nyeri berhubungan dengan adanya proses infeksi pada susunan saraf pusat
1)    Tujuan
a)    Tujuan jangka panjang
Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 4 hari nyeri hilang
b)    Tujuan jangka pendek
Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 1 hari nyeri berangsur-angsur berkurang dengan  kriteria:
-    Klien melaporkan nyeri hilang atau terkontrol
-    Menunjukan postur rileks dan mampu tidur/istirahat dengan tepat
2)    Intervensi
a)    Berikan lingkungan yang tenang, ruangan agak gelap sesuai indikasi
Rasional:
Menurunkan reaksi terhadap stimulasi dari luar atau sensitivitas pada cahaya dan meningkatkan istirahat/relaksasi.
b)    Letakan kantung es pada kepala, pakaian dingin diatas mata.
Rasional:
Meningkatkan vasokontriksi, menumpulkan persepsi sensori yang selanjutnya akan menurunkan nyeri.
c)    Dukung untuk menemukan posisi yang nyaman, seperti kepala agak tinggi sedikit.
Rasional:
Menurunkan iritasi meningeal, resultan ketidak nyamanan lebih lanjut.
d)    Berikan latihan rentang gerak aktif/pasif secara tepat dan lakukan massase otot daerah bahu atau leher.
Rasional:
Dapat membantu merelaksasikan ketegangan otot yang meningkatkan reduksi nyeri atau rasa tidak nyaman tersebut.

e.    Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler
1)    Tujuan
a)    Tujuan jangka panjang
Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 4 hari gangguan mobilitas fisik meningkat/membaik
b)    Tujuan jangka pendek
Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 1 hari gangguan mobilitas fisik berangsur-angsur berkurang dengan  kriteria:
-    Klien mampu melakukan mobilisasi
2)    Intervensi
a)    Periksa  kembali   kemampuan dan keadaan secara fungsional pada kerusakan yang terjadi
Rasional:
Mengidentifikasi kemungkinan kerusakan    secara    fungsional    dan mempengaruhi  dan pilihan  intervensi yang akan dilakukan.
b)    Kaji derajat imobilisasi klien dengan menggunakan  skala ketergantungan
Rasional:
Klien mampu mandiri (nilai 0) atau memerlukan bantuan/peralatan yang minimal (nilai 1); memerlukan bantuan sedang dengan pengawasan/diajarkan (nilai 2); memerlukan bantuan/peralatan yang terus menerus dan alat khusus (nilai 3); atau tergantung secara total pada pemberian asuhan (nilai 4). seseorang da lam semua kategori sama-sama mempunyai resiko kecelakaan namun kategori dengan nilai 2-4 mempunyai resiko terbesar untuk terjadinya bahaya tersebut sehubungan dengan imobilisasi.
c)    Berikan atau bantu untuk melakukan latihan rentang gerak/ROM.
Rasional:
Mempertahankan mobilisasi dan fungsi sendi/posisi normal ekstremitas dan menurunkan terjadinya vena yang statis
d)    Berikan perawatan kulit dengan cermat, masase dengan pelembab dan ganti linen/pakaian yang basah dan pertahankan linen tersebut tetap bersih dan bebas dari kerutan.
Rasional:
Meningkatkan sirkulasi dan elastisitas kulit dan menurunkan resiko terjadinya ekskoriasi kulit

f. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan penekanan pada pusat pengaturan  pernapasan
1)    Tujuan
a)    Tujuan jangka panjang
Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 4 hari pola napas efektif
b)    Tujuan jangka pendek
Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 1 hari pola nafas berangsur-angsurmembaik dengan  kriteria:
-    Frekuensi nafas normal 16-20x/menit
-    Irama nafas regular
2)    Intervensi
a)    Kaji dan pantau frekuensi pola dan irama nafas.
Rasional:
Perubahan pola nafas tidak efektif merupakan tanda berat adanya peningkatan tekanan intrakranial yang menekan medulla oblongata
b)    Pertahankan jalan nafas efektif dengan melakukan pembersihan jalan nafas seperti pengisapan lendir dan oral hygiene.
Rasional:
Lendir yang berlebihan akan menumpuk dan menimbulkan obstruksi jalan nafas.
c)    Berikan O2 sesuai order dan monitor efektifitas pemberian oksigen tersebut.
Rasional:
Untuk      memenuhi      kebutuhan oksigen dalam darah dan jaringan.
d)    Pertahankan kepatenan jalan nafas dengan leher dan posisi netral
Rasionaal:
Posisi leher yang ekstensi/menekuk mengakibatkan jalan nafas terhambat

g.    Peningkatan suhu tubuh: hipertermi berhubungan dengan inflamasi pada meningen
1)    Tujuan
a)    Tujuan jangka panjang
Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 4 hari suhu tubuh dalam batas normal
b)    Tujuan jangka pendek
Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 1 hari suhu tubuh berangsur-angsur membaik dengan  kriteria:
-    Klien mampu melakukan mobilisasi
-    Suhu tubuh 36 - 37 °C, keringat berkurang
2)    Intervensi
a)    Berikan kompres dingin pada daerah yang banyak pembuluh darah    sampai    suhu    badan kembali normal.
Rasional:
Kompres  dingin  dapat  menimbulkan proses     konduksi     dimana     terjadi perpindahan panas dari satu objek ke objek lain dengan kontak fisik antara kedua objek tersebut.
b)    Anjurkan   pada   klien   untuk mengenakan pakaian tipis dan menyerap keringat.
Rasional:
Dengan   pakaian   tipis   memudahkan penyerapan keringat dan memberi rasa nyaman.
c)    Observasi    tanda-tanda    vital suhu, tensi, respirasi, dan nadi.
Rasional:
Untuk mengetahui lebih lanjut tindakan yang akan dilakukan.
d)    Kolaborasi   pemberian   terapi antipiretik.
Rasional:
Antipiretik     berfungsi     menghambat panas pada hipotalamus.

h.    Resiko terjadi gangguan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama
1)    Tujuan
a)    Tujuan jangka panjang
Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 4 hari gangguan integritas kulit tidak terjadi
b)    Tujuan jangka pendek
Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 1 hari tanda-tanda gangguan integritas kulit tidak terjadi dengan  kriteria:
-    Tidak tampak tanda-tanda gangguan integritas kulit seperti:  kemerahan dan lecet pada kulit.
2)    Intervensi
a)    Atur  dan  rubah posisi  tidur klien setiap 2 jam.
Rasional:
Dapat mengurangi tekanan yang terus menerus yang menimbulkan sirkulasi yang optimal pada daerah penekanan.
b)    Berikan bantalan pada area tubuh yang menonjol dan berada pada permukaan tempat tidur
Rasional:
Dengan diberikan bantalan pada daerah penekanan akan mengurangi tekanan efek sirkulasi yang tidak lancar.
c)    Lakukan masase pada daerah penekanan seperti bokong, siku dan turn it setiap hari.
Rasional:
Tindakan masase sebagi stimulus terhadap vasodilatasi bagi vaskuler yang mengalami kontriksi pada permukaan sehingga akan membantu melancarkan sirkulasi pada daerah tersebut.
d)    Observasi tanda dekubitus seperti lecet, kemerahan pada siku, tumit, bokong dan daerah punggung setiap hari.
Rasional:
Bila ditemukan tanda-tanda dekubitus segera ambil tindakan untuk mengantisipasi terjadinya kerusakan jaringan kulit yang berlebihan.

i. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kelemahan refleks menelan atau adanya disfagia atau adanya rasa mual, muntah, anoreksia
1)    Tujuan
a)    Tujuan jangka panjang
Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 4 hari kebutuhan nutrisi terpenuhi
b)    Tujuan jangka pendek
Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 1 hari kebutuhan nutrisi berangsur-angsur membaik dengan  kriteria:
-    Disfagia dapat diatasi
-    Tidak terjadi aspirasi.
-    Mual, muntah dan anoreksia tidak ada.
2)    Intervensi
a)    Timbang  berat badan seminggu sekali.
Rasional:
Untuk mengetahui efektivitas therapi
b)    Kolaborasi dengan ahli gizi untuk membantu perencanaan makanan.
Rasional:
Ahli gizi adalah spesialis nutrisi yang dapat membantu kebutuhan nutrisi klien dan langsung mempersiapkan kebutuhan nurisi kliennya.
c)    Jika masukan makanan hanya sedikit, BB terus menerus turun selama 5 hari, status menunjukkan kekurangan nutrisi kolaborasi dengan dokter untuk pemberian nutrisi parenteral total (NPT).
Rasional:
NPT mensuplai protein dan kalori,asam lemak dan vitamin dapat diberikan IV bersama-sama larutan NPT, protein, Karbohidrat dan lemak penting untuk fungsi dan perkembangan sel.
d)    Bila terjadi disfagia kolaborasi dengan dokter untuk pemasangan NGT.
Rasional:
Dengan NGT dapat menghindari terjadinya aspirasi karena kelemahan reflek menelan.
e)    Kolaborasi    pemberian    obat H2 reseptor antagonis sesuai advis
Rasional:
H2 reseptor antagonis dapat menghambat produksi HCl atau menetralisir asam lambung.

j.    Kurang perawatan diri berhubungan dengan perubahan susunan saraf pusat, kelemahan fisik
1)    Tujuan
a)    Tujuan jangka panjang
Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 4 hari perawatan diri terpenuhi
b)    Tujuan jangka pendek
Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 1 hari kurang perawatan berangsur-angsur terpenuhi dengan  kriteria:
-    Aktifitas sehari-hari dapat dilakukan pasien sementara sakit dan dapat dilakukan setelah pukang dari rumah sakit
-    Berat badan tidak turun
-    Kulit utuh
-    BAB dan BAK normal
2)    Intervensi
a)    Observasi tingakt fungsi pasien
Rasional:
Menentukan tingkat kebutuhan pasien
b)    Anjurkan pasien untuk mengungkapkan perasaannya tentang ketidakamampuannya melakukan perawatan diri sendiri
Rasional:
Membantu pasien dalam mendapatkan tingkat fungsi yang lebih baik
c)    Berikan bantuan dan dukungan sesuai kebutuhan seperti mandi, BAB/BAK, hygiene, berpakaian dan makan.
Rasional:
Akan meningkatkan perasaan independent (mandiri).
d)    Berikan semua pengukuran/alat-alat makanan dan hygiene.
Rasional:
Untuk menghemat energi
e)    Pertahankan kateter indwelling bila perlu.
Rasional:
Untuk mengosongkan kandung kemih pada pasien tidak sadar

k.    Gangguan rasa aman: cemas klien dan keluarga berhubungan ancaman kematian
1)    Tujuan
a)    Tujuan jangka panjang
Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 4 hari gangguan rasa aman; cemas dapat teratasi
b)    Tujuan jangka pendek
Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 1 hari gangguan rasa aman; cemas berangsur-angsurberkurang dengan  kriteria:
-    Klien atau keluarga mengakui dan mendiskusikan rasa takut.
-    Klien atau keluarga tampak rileks (tidak memperlihatkan kecemasan seperti gelisah)
2)    Intervensi
a)    Kaji status mental dan tingkat ansietas dari klien/keluarga. Catat tanda-tanda verbal atau non verbal
Rasional:
Gangguan tingkat kesadaran dapat mempengaruhi ekspresi rasa takut tapi tidak menyangkal keberadaannya. Derajat ansietas akan dipengaruhi bagaimana informasi tersebut diterima oleh individu.
b)    Berikan penjelasan hubungan antara proses penyakit dan gejalanya
Rasional:
Meningkatkan pemahaman, mengurangi rasa takut karena ketidaktahuan dan dapat membantu menurunkan ansietas.
c)    Jelaskan dan persiapkan untuk tindakan prosedur sebelum dilakukan.
Rasional:
Dapat meringankan ansietas terutama ketika pemeriksaan tersebut melibatkan otak.
d)    Libatkan klien/keluarga dalam perawatan, perencanaan kehidupan sehari-hari, membuat keputusan sebanyak mungkin.
Rasional:
Meningkatkan perasaan kontrol terhadap diri dan meningkatkan kemandirian

MENINGITIS TB

Konsep Dasar Meningitis TB
Pengertian
Meningitis tuberkulosis adalah infeksi pada meningen yang disebabkan oleh basil tahan asam Mycobacterium tuberculosis (Dewanto, 2009).
Meningitis tuberkulosis adalah peradangan pada selaput meningen, cairan serebrospinal dan spinal kolumna yang menyebabkan proses infeksi pada sistem saraf pusat (Harsono, 2005).
Meningitis tuberkulosis adalah penyebaran tuberkulosis primer dengan fokus infeksi ditempat lain (Mansjoer, 2000).
Meningitis tuberkulosis adalah komplikasi infeksi primer dengan atau tanpa penyebaran milier (Aditama, 2002).
Etiologi
Penyakit meningitis tuberkulosis disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis humanus, sedangkan menurut peneliti yang lain dalam  literatur yang berbeda meningitis Tuberkulosis disebabkan oleh duamicobacterium yaitu Mycobacterium tubeculosis dan Mycobacterium bovis yang biasanya menyebabkan infeksi pada sapi dan jarang pada manusia. Mycobacterium tuberculosis merupakan basil yang berbentuk batang, berukuran 0,2-0,6 µm x 1,0-10µm, tidak bergerak dan tidak membentuk spora. Mycobacterium tuberculosis bersifat obligat aerob, hal ini menerangkan predileksinya pada jaringan yang oksigenasinya tinggi seperti apeks paru, ginjal dan otak.
Mycobacterium tidak tampak dengan pewarnaan gram tetapi tampak dengan pewarnaan Ziehl-Neelsen. Basil ini bersifat tahan asam, artinya tahan terhadap pewarnaan carbolfuchsin Yang menggunakan campuran asam klorida-etanol. Sifat tahan asam ini disebabkan karena kadar lipid yang tinggi pada dinding selnya. Lipid pada dinding sel basil Mycobacterium tuberculosis meliputi hampir 60% dari dinding selnya, dan merupakan hidrokarbon rantai panjang yang disebutasam mikolat. Mycobacterium tuberculosa tumbuh lambat dengan doubletime dalam 18-24 jam, maka secara klinis kulturnya memerlukan waktu 8 minggu sebelum dinyatakan negatif.
Patofisiologi
Meningitis tuberkulosis pada umumnya sebagai penyebaran infeksituberkulosis primer ditempat lain. Biasanya fokus infeksi primer di paru- paru. Tuberkulosis secara primer merupakan penyakit pada manusia. Reservoir infeksi utamanya adalah manusia, dan penyakit ini ditularkandari orang ke orang terutama melalui partikel droplet yang dikeluarkanoleh penderita tuberkulosis paru pada saat batuk. Partikel-partikel yang mengandung Mycobacterium tuberculosis ini dapat bertahan lama di udaraatau pada debu rumah dan terhirup masuk kedalam paru-paru orang sehat. Pintu masuk infeksi ini adalah saluran nafas sehingga infeksi pertama biasanya terjadi pada paru-paru. Transmisi melalui saluran cerna dan kulit jarang terjadi.

Droplet yang terinfeksi mencapai alveoli dan berkembang biak dalamruang alveoli, makrofag alveoli maupun makrofag yang berasal darisirkulasi. Sejumlah kuman menyebar terutama ke kelenjar getah beninghilus. Lesi primer pada paru-paru berupa lesi eksudatif parenkimal dankelenjar limfenya disebut kompleks “Ghon”. Pada fase awal kuman darikelenjar getah bening masuk kedalam aliran darah sehingga terjadi penyebaran hematogen. Dalam waktu 2-4 minggu setelah terinfeksi, terbentuklah responimunitas selular terhadap infeksi tersebut. Limfosit-T distimulasi oleha ntigen basil ini untuk membentuk limfokin, yang kemudian mengaktivasi sel fagosit mononuklear dalam aliran darah. Dalam makrofag yang  diaktivasi ini organisme dapat mati, tetapi sebaliknya banyak juga makrofag yang mati. Kemudian terbentuklah tuberkel terdiri dari makrofag, limfosit dan sel-sel lain mengelilingi jaringan nekrotik dan perkijuan sebagai pusatnya. Setelah infeksi pertama dapat terjadi dua kemungkinan, pada orang yang sehat lesi akan sembuh spontan dengan meninggalkan kalsifikasi dan jaringan fibrotik. Pada orang dengan daya tahan tubuh yang rendah, penyebaran hematogen akan menyebabkan infeksi umum yang fatal, yang disebut sebagai tuberkulosis millier diseminata. Pada keadaan dimana respon host masih cukup efektif tetapi kurang efisien akan timbul fokus perkijuan yang besar dan mengalami enkapsulasi fibrosa tetapi menyimpan basil yang dorman. Klien dengan infeksi laten memiliki resiko 10% untuk  berkembang menjadi tuberkulosis aktif. Reaktivasi dari fokus perkijuanakan terjadi bila daya tahan tubuh host menurun, maka akan terjadi pembesaran tuberkel, pusat perkijuan akan melunak dan mengalami pencairan, basil mengalami proliferasi, lesi akan pecah lalu melepaskanorganisme dan produk-produk antigen ke jaringan disekitarnya. Apabilahal-hal yang dijelaskan di atas terjadi pada susunan saraf pusat maka akan terjadi infeksi yang disebut meningitis tuberkulosis. Fokus tuberkel yang berlokasi dipermukaan otak yang berdekatandengan ruang sub arakhnoid dan terletak sub ependimal disebut sebagai “Focus Rich”. Reaktivasi dan ruptur dari fokus rich akan menyebabkan pelepasan basil Tuberkulosis dan antigennya kedalam ruang sub arakhnoidatau sistem ventrikel, sehingga terjadi meningitis tuberkulosis.
Tanda dan Gejala
Gejala meningitis diakibatkan dari infeksi dan peningkatan TIK:
  1. Sakit kepala dan demam adalah gejala awal yang sering.
  2. Perubahan pada tingkat kesadaran dapat terjadi letargi, tidak responsif dan koma
  3. Iritasi meningen mengakibatkan sejumlah tanda sebagai berikut: Rigiditasi nukal (kaku leher) upaya untuk fleksi kepala mengalami kesukaran karena adanya spasme otot leher, Tanda kernik positif; ketika pasien di baringkan dengan paha dalam keadaan fleksi ke arah abdomen, kaki tidak dapat diekstensikan sempurna, Tanda brudziki; bila leher pasien di fleksikan maka di hasilkan fleksi lutut dan pinggul. Bila dilakukan fleksi pasif pada ekstermitas bawah pada salah satu sisi ekstermitas yang berlawanan.
  4. Mengalami foto fobia atau sensitif  yang berlebihan pada cahaya.
  5. Kejang akibat area fokal kortikal yang peka dan peningkatan TIK
  6. Adanya ruam merupakan ciri menyolok pada meningitis meningokokal.
  7. Infeksi fulminating dengan tanda-tanda septikemia : demam tinggi tiba-tiba muncul lesi purpura yang menyebar, syok dan tanda koagulopati intravaskuler diseminata (Smetzer et al., 2001).
Gejala klinik meningitis berdasarkan stadium adalah sebagai berikiut:
  • Stadium I : Stadium prodomal berlangsung lebih kurang 2 sampai 3 bulan. Permulaan penyakit ini bersifat sub akut, sering panas atau kenaikan suhu yang ringan atau hanya dengan tanda-tanda infeksi umum, tak ada nafsu makan, muntah-muntah, murung, berat badan turun, tak ada gairah, mudah tersinggung, cengeng, tidur terganggu dan gangguan kasadaran berupa apatis, gejala-gejala tadi lebih sering terlihat pada anak kecil. Anak yang lebih besar mengetahui nyeri kepala, tak ada nafsu makan, obstipasi, muntah-muntah, pola tidur terganggu; pada orang dewasa terdapat panas yang hilang timbul, nyeri kepala, konstipasi, tak ada nafsu makan, foto fobia, nyeri punggung, halusinasi, delusi dan sangat gelisah.
  • Stadium II : Gejala-gejala terlihat lebih berat, terdapat kejang umum atau fokal terutama pada anak kecil dan bayi. Tanda-tanda rangsangan meningeal mulai nyata, seluruh tubuh dapat menjadi kaku dan timbul opistotonus, terdapat tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial, ubun-ubun menonjol dan muntah lebih hebat. Nyeri kepala bertambah berat dan progresif menyebabkan si anak berteriak dan menangis dengan nada yang khas yaitu meningeal cry. Kesadaran makin menurun. Terdapat gangguan nervus kranial antara lain : N II, III, IV, VI, VII dan VIII. Dalam stadium ini dapat terjadi defisit neurologis fokal seperti hemiparesis, hemiplegia karena infark otak dan rigiditas deserebrasi. Pada funduskopi dapat ditemukan atrofi N. II dan koroid dan ukurannya sekitar setengah diameter papil.
  • Stadium III: Dalam stadium ini suhu tidak teratur dan semakin tinggi yang disebabkan oleh terganggunya regulasi pada diensefalon. Pernapasan dan nadi juga tidak teratur dan terdapat gangguan dalam bentuk cheyne-stokes atau kussmaul. Gangguan miksi berupa retensi atau inkontinesia urin. Di dapatkan pula adanya gangguan kesadaran makin menurun sampai koma yang dalam. Pada stadium ini penderita dapat meninggal dunia dalam waktu 3 minggu bila tidak memperoleh pengobatan sebagaimana mestinya.
5.    Komplikasi
  • Peningkatan tekanan intrakranial
  • Hydrosephalus 
  • Defisit saraf kranial
  • Ensepalitis
  • Syndrome of inapporiate secretion of antidiuretic hormone (SIADH).
  • Abses otak
  • Kerusakan visual
  • Defisit intelektual
  • Kejang
  • Endokarditis
  • Pneumonia (Tarwoto, 2003).
6.    Pemeriksaan penunjang
  1. Pemeriksaan radiologi pada meningitis tuberkulosis meliputi pemeriksaan Rontgent thorax, CT-scan, MRI. Pada klien dengan meningitis tuberkulosis umumnya didapatkan gambaran tuberkulosis paru primer pada pemeriksaan rontgen tthoraks, kadang - kadang disertai dengan penyebaran milier dan kalsifikasi. Sedangkan pada pemeriksaan CT-scan dan MRI dapat terlihat adanya hidrosefalus, inflamasi meningen dan tuberkoloma. Gambaran rontgent thoraks yang normal tidak menyingkirkan diagnosa meningitis tuberkulosis.
  2. Tes Tuberkulin : Tuberkulin hanya mendeteksi reaksi hipersensitifitas lambat,tidak menandakan adanya infeksi aktif sehingga penggunaannyauntuk mendiagnosis infeksi aktif dan meningitis tuberkulosis masih kurang sensitif. Namun pemeriksaan tuberkulin yang positif pada anak memiliki nilai diagnostik, sementara pada orang dewasa hanya menandakan adanya riwayat kontak dengan antigen tuberkulosis, dan dapat memberikan arah untuk pemeriksaan selanjutnya.
  3. Cairan Serebrospinal : Pemeriksaan cairan serebrospinal merupakan diagnostik yangefektif untuk mendiagnosis meningitis tuberkulosis. Gambaran cairan serebrospinal yang karakteristik pada meningitis tuberculosis adalah: Cairan jernih sedikit kekuningan atau xantocrom, Pleositosis yang moderat biasanya antara 100-400 sel/mm dengan predominan limfosit, Kadar glukosa yang rendah 30-45 mg/dL atau kurang dari50% nilai glukosa darah. Peningkatan kadar protein.
  4. Bakteriologi Identifikasi basil tuberkulosis pada cairan serebrospinal memilikiakurasi yang sangat tinggi hingga 100% dalam mendiagnosismeningitis tuberkulosis. Untuk mendiagnosis basil tersebut dapatdilakukan dengan cara pemeriksaan apus langsung BTA dengan metode Ziehl-Neelsen dan dengan cara kultur pada cairan serebrospinal.
  5. Pemeriksaan Biokimia: Pemeriksaan ini untuk mengukur sifat tertentu dari mycobacterium atau respon tubuh penderita terhadap mycobacterium.
  6. Tes ImmunologisYang mendeteksi antigen atau antibody mikobakterial dalamcairan serebrospinal, metoda yang sering digunakan dalam tesimunologis antara lain: ELISA (enzym linked immuno sorbent assay) dan Polymerase Chain Reaction (PCR)
7.    Penatalaksanaan Medic
Penatalaksanan meningitis tuberculosis adalah OAT
Efek samping OAT :
1)    Isoniazid (H)
Efek samping berat yaitu terjadi hepatitis dan terjadi pada kira-kira 0,5% dari kasus. Bila terjadi maka pengobatan dihentikan, dan setelah pemeriksaan faal hati kembali normal pengobatan dapat dilaksanakan kembali
Efek samping ringan berupa
(a)    Tanda-tanda keracunan saraf tepi, kesemutan, anastesia dan nyeri otot
(b)    Kelainan yang menyerupai syndroma pellagra
(c)    Kelainan kulit yang bervariasi antara lain gatal-gatal
2)    Rifampisin (R)
Efeksamping berat jarang terjadi  seperti : sesak nafas yang kadang-kadang disertai kollaps atau syok, anemia hemolitik, purpura dan gagal ginjal. Efek samping ringan seperti : gatal-gatal, kemerahan, demam, nyeri tulang, nyeri perut, mual muntah dan kadang-kadang diare.
3)    Pyrazinamid (Z)
Efek samping utama adalah hepatitis, dapat terjadi nyeri sendi dan kadang-kadang serangan penyakit gout.
4)    Ethambutol (E)
Dapat menyebabkan gangguan penglihatan, berkurangnya ketajaman penglihatan, kabur dan buta warna merah dan hijau.
b)    Steroid
Diberikan untuk:
1)    Menghambat reaksi inflamasi
2)    Mencegah komplikasi
3)    Menurunkan edema serebri
4)    Mencegah perlekatan
5)    Mencegah arteritis/infark otak
Indikasi:
1)    Kesadaran menurun
2)    Defisit neurologis fokal
Dosis:
Deksametason 10 mg bolus intravena, kemudian 4 kali 5 mg intravena selama 2-3 minggu selanjutnya turunkan perlahan selama 1 bulan (Mansjoer et al, 2000).
Tujuan pengobatan terhadap penderita tuberkulosis adalah menyembuhkan penderita dari penyakit tuberkulosis yang dideritanya, mencegah kematian akibat tuberkulosis, mencegah terjadinya relaps, mencegah penularan dan sekaligus mencegah terjadinya resistensi terhadap Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang diberikan.
Perawatan
  • Perawatan penderita meliputi berbagai aspek yang harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh, antara lain kebutuhan cairan dan elektrolit, kebutuhan nutrisi, posisi klien, perawatan kandung kemih, dan defekasi serta perawatan umum lainnya sesuai dengan kondisi klien.
  • Pemberian nutrisi melalui NGT
  • Atur posisi yang nyaman

GBS

GBS atau Guillain Barre Syndrome adalah penyakit langka yang menyebabkan tubuh menjadi lemah kehilangan kepekaan yang biasanya dapat sembuh sempurna dalam hitungan minggu, bulan atau tahun. GBS mengambil nama dari dua Ilmuwan Perancis, Guillain (baca Gilan) dan Barré (baca Barre), yang menemukan dua orang prajurit perang di tahun 1916 yang mengidap kelumpuhan kemudian sembuh setelah menerima perawatan medis. Penyakit ini menjangkiti satu dari 40,000 orang tiap tahunnya.
Sifat-sifat GBS:
  • Bisa terjangkit di semua tingkatan usia mulai dari anak-anak sampai dewasa
  • jarang ditemukan pada manula
  • Lebih sering ditemukan pada kaum pria
  • Bukan penyakit turunan
  • tidak dapat menular lewat kelahiran, terinfeksi atau terjangkit dari orang lain yang mengidap GBS
  • Namun, bisa timbul seminggu atau dua minggu setelah infeksi usus atau tenggorokan.
Apa gejala GBS?
Guillain Barre Syndrome umumnya bergejala awal: rasa seperti ditusuk-tusuk jarum diujung jari kaki atau tangan atau mati rasa di bagian tubuh tersebut. Kaki terasa berat dan kaku atau mengeras, lengan terasa lemah dan telapak tangan tidak bisa menggenggam erat atau memutar seusatu dengan baik (buka kunci, buka kaleng dll)
Gejala-gejala awal ini bisa hilang dalam tempo waktu beberapa minggu, penderita biasanya tidak merasa perlu perawatan atau susah menjelaskannya pada tim dokter untuk meminta perawatan lebih lanjut karena gejala-gejala akan hilang pada saat diperiksa.
Gejala tahap berikutnya disaaat mulai muncul kesulitan berarti, misalnya: kaki susah melangkah, lengan menjadi sakit lemah, dan kemudian dokter menemukan syaraf refleks lengan telah hilang fungsi.
Apa penyebab GBS?
Guillain Barre Syndrome timbul dari pembengkakan syaraf peripheral, sehingga mengakibatkan tidak adanya pesan dari otak untuk melakukan gerakan yang dapat diterima oleh otot yang terserang. Karena banyak syaraf yang terserang termasuk syaraf immune sistem maka sistem kekebalan tubuh kita pun akan kacau. Dengan tidak diperintahakan dia akan menngeluarkan cairan sistem kekebalan tubuh ditempat-tempat yang tidak diinginkan.
Dengan pengobatan maka sistem kekebalan tubuh akan berhenti menyerang syaraf dan bekerja sebagaimana mestinya.
Bagaimana GBS dapat ter-diagnosa?
Diagnosa Guillain Barre Syndrome didapat dari riwayat dan hasil test kesehatan baik secara fisik maupun test laboratorium. Dari riwayat penyakit, obat2an yang biasa diminum, pecandu alcohol, infeksi2 yang pernah diderita, gigitan kutu maka Dokter akan menyimpulkan apakah pasien masuk dalam daftar pasien GBS. Tidak lupa juga riwayat penyakit yang pernah diderita pasien maupun keluarga pasien misalnya diabetes mellitus, diet yang dilakukan, semuanya akan diteliti dengan seksama hingga dokter bisa membuat vonis apakah anda terkena GBS atau penyakit lainnya.
Pasien yang diduga mengidap GBS di haruskan melakukan test:
  1. Darah lengkap
  2. Lumbar Puncture
  3. EMG (electromvogram)
Sesuai urutannya, test pertama akan dilakukan kemudian test ke dua apabila test pertama tidak terdeteksi adanya Guillain Barre Syndrome, dan selanjutnya.
Apa yang akan terjadi setelah test dilakukan?
Tanda-tanda melemahnya syaraf akan nampak semakin parah dalam waktu 4 sampai 6 minggu. Beberapa pasien melemah dalam waktu relative singkat hingga pada titik lumpuh total dalam hitungan hari, tapi situasi ini amat langka.
Pasien kemudian memasuki tahap ‘tidak berdaya’ dalam beberapa hari. Pada masa ini biasanya pasien dianjurkan untuk ber-istirahat total di rumah sakit. Meskipun kondisi dalam keadaan lemah sangat dianjurkan pasien untuk selalu menggerakkan bagian-bagian tubuh yang terserang untuk menghindari kaku otot. Ahli Fisioterapy biasanya akan sangat dibutuhkan untuk melatih pasien dengan terapi-terapi khusus dan akan memberikan pengarahan-pengarahan kepada keluarga adan teman pasien cara-cara melatih pasien GBS.
Apakah GBS menyakitkan?
Ya dan tidak. Pasien biasanya merasakan sakit yang akut pada saat GBS. Terutama didaerah tulang belakang dan lengan dan kaki. Namun ada juga pasien yang tidak mengeluhkan rasa sakit yang berarti meskipun mereka mengalami kelumpuhan parah. Rasa sakit muncul dari pembengkakan dari syaraf yang terserang, atau dari otot yang sementara kehilangan suplai energy, atau dari posisi duduk atau tidur si Pasien yang mengalami kesulitan untuk bergerak atau memutar tubuhnya ke posisi nyaman. Untuk melawan rasa sakit dokter akan memberikan obat penghilang rasa sakit dan perawat akan memberikan terapi-terapi untuk me-relokasi bagian-bagian tubuh yang terserang dengan terapi-terapi khusus. Rasa sakit dapat datang dan pergi dan itu amat normal bagi penderita GBS.
Apakah pasien GBS membutuhkan perawatan khusus?
Pasien biasanya akan melemah dalam waktu beberapa minggu, maka dari itu perawatan intensive sangat diperlukan di tahap-tahap dimana GBS mulai terdeteksi. Sesuai dengan tahap dan tingkat kelumpuihan pasien maka dokter akan menentukan apa pasien memrlukan perawatan di ruang ICU atau tidak.
Sekitar 25% pasien GBS akan mengalami kesulitan di:
  • Bernafas
  • Kemampuan menelan
  • Susah batuk
Dalam kondisi tersebut diatas, biasanya pasien akan diberikan bantuan alat ventilator untuk membantu pernafasan.
Berapa lama pasien dapat sembuh?
Setelah beberapa waktu, kondisi mati rasa akan berangsur membaik. Pasien harus tetap wapada karena hanya 80% pasien yang dapat sembuh total, tergantung parahnya pasien bisa berjalan dalam waktu hitungan minggu atau tahun. Namun statistic membuktikan bahwa rata-rata pasien akan membaik dalam waktu 3 sampai 6 bulan. Pasien parah akan menyisakan cacat dibagian yang terserang paling parah, perlu terapi yang cukup lama untuk mengembalikan fungsi-fungsi otot yang layu akibat GBS. Bisanya memakan waktu maksimal 4 tahun.
Adakah obat untuk penyakit ini?
Obat nya hanya ada 1 macam yaitu GAMAMUNE ( Imuno globuline ) yang harganya 4jt - 4,5 jt rupiah /botol biasanya obat ini diinfuskan kepasien dg jumlah yang dihitung dari berat badan, untuk lebih jelas nya tanya ke dokter, contoh kasus yang dialami Deya dg berat badan pada saat sakit waktu itu 58 KG deya menghabiskan obat ini sebanyak 20 botol, ( 5 botol / hari).
Tips perawatan diri Karena penyebab pasti GBS tidak dapat menunjuk, tidak ada cara yang diketahui untuk mencegahnya. However, it's important to seek immediate medical treatment for any symptoms of muscle weakness and loss of reflexes. Namun, penting untuk segera mencari perawatan medis untuk setiap gejala kelemahan otot dan hilangnya refleks. Early treatment improves the outlook for recovery. Perawatan dini meningkatkan prospek untuk pemulihan.